Saturday, July 04, 2009

Dari Presiden Ke Presiden




tong dicalana mun silaing teu bisa ngurus jalma
(jangan pakai celana kalau kamu tidak bisa mengurus manusia)
jalma nu loba
(manusia yang banyak)
loba kumaha
(Banyak bagai mana)
loba rakyat nu sangsara
(banyak rakyat yang sengsara)
tanah na beak ku pengusaha
(tanahnya habis oleh pengusaha)
rakyat nu bingung teu boga keur nyambungkeun umur
(rakyat yang bingung tidak punya untuk meneruskan umur)

Tonggeret - Muktimukti

Buku kumpulan karikatur benny di kontan bisa menjadi referensi buat pilpres 2009. Benny merekam tingkah laku para capres lewat karikaturnya. Buat manusia Indonesia yang mudah lupa karikatur ini diajurkan. :d

Rachmadi, benny
Dari Presiden ke Preasiden: Tingkah-Polah Elite Politik (buku 10
Jakarta, KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
x + 333 hlm 22 cm x 17,5 cm
ISBN 13: 978-979-91-0190-7


di muntahkan oleh sawung@psik-itb.org

Thursday, July 02, 2009

Alat perekam sederhan yang baik



Alat perekam diatas sederhana dan cukup baik kualitas mic dan suara yg direkamnya. Alat perekam tersebut merupakan mp3 player yang dijual bebas. Selain bisa merekam, memutar mp3 alat tersebut bisa digunakan menangkap siaran radio. Kualitas aduio yang dihasilkan bagus untuk ruangan yang tidak terlalu besar, sampai jarak 10 masih jelas suara yang direkam Lumayan bagus untuk perekam tersembunyikarena fungsi utamanya mendengarkan mp3 jadi orang tidak sadar kalo ada yang merekam pembicaraan.


di muntahkan oleh sawung@psik-itb.org

Thursday, June 25, 2009

Selebaran setengah gelap salah satu capres-cawapres



Selebaran tersebut saya dapatkan dua minggu lalu ditim Megawati-Prabowo. Selebaran ini juga beredar diakar rumput. Kemarin tiba-tiba selebaran ini disebarkan pada kampanye JK-win di medan.

ps:disebut setengah gelap karena ini fotokopian dari media yang nyata dan bisa diverifikasi. yang gelapnya siapa yang nyebarinnya.

di muntahkan oleh sawung@psik-itb.org

Tuesday, June 09, 2009




Kamis minggu lalu gw dateng ke seminar Manusia dan Perubahan Iklim yang diselenggaran oleh KNLH, Kedutaan Prancis, CIRAD, AFD, IRD, CIFOR dan CCF Jakarta. Acaranya diselenggarakan di Hotel Le Meriden. BAnyak pembicaranya seperti terlampir diatas. Isi pembicaraan macem-macem tapi yang gw tangkep ternyata isu perubahan iklim buat beberapa lembaga (pemerintah dan ornop) adalah alat untuk memperoleh hutang. Damn! Ternyata isu perubahan iklim bukan untuk kemaslahatan manusia tapi hanya untuk kesejahterajan pihak-pihak tertentu. Gue malu liat presentasi sebuah lembaga pemerintah yang menjelaskan perubahan iklim hanya dua slide sisanya skema pendanaan dan hutang. Sudah begitu si lembaga tersebut memakai data-data lama dan hubungan sebab-akibatnya sama sekali tidak nyambung.

Disana ketemu beberapa teman. Lingkaran kecil kecil ternyata. Small world.


di muntahkan oleh sawung@psik-itb.org

Tuesday, June 02, 2009

Dipenjara gara mengeluh!!!

Kekhawatiran saya bahwa UU ITE dipakai untuk menekan pengkritik terbukti sudah. Seorang ibu ditahan dilapas wanita gara-gara suratnya kesebuah mailing list. Mestinya UU tersebut dipakai untuk melindungi warga negara dari penipuan yang berjibun jumlahnya di dunia maya. Lah ini kok malah dipakai untuk orang yang mengritik sebuah layanan. Kekhawatiran yang sama terhadap RUU Rahasia Negara yang akan dipakai untuk menutup informasi yang harusnya merupakan hak publik.
Ini penjara mau dipenuhin oleh pengritik? problem terbesar dinegeri ini adalah korupsi. Alangkah bagusnya penjara dipenuhi oleh koruptor bukan pengritik.

regards

ps: jadi inget pas nyokap gw gejala stroke kemaren-maren. minta hasil CT scan gak diaksih-kasih. Yang minta CT jg gw bukan dokternya emang disangkanya dokter doang yang bisa baca CT?

Gabung causenya di facebook.
berita terakhir di korantempo

RS Omni Dapatkan Pasien dari Hasil Lab Fiktif

Jakarta - Jangan sampai kejadian saya ini akan menimpa ke nyawa manusia lainnya. Terutama anak-anak, lansia, dan bayi. Bila anda berobat berhati-hatilah dengan kemewahan rumah sakit (RS) dan title international karena semakin mewah RS dan semakin pintar dokter maka semakin sering uji coba pasien, penjualan obat, dan suntikan.

Saya tidak mengatakan semua RS international seperti ini tapi saya mengalami kejadian ini di RS Omni International. Tepatnya tanggal 7 Agustus 2008 jam 20.30 WIB. Saya dengan kondisi panas tinggi dan pusing kepala datang ke RS OMNI Internasional dengan percaya bahwa RS tersebut berstandard International, yang tentunya pasti mempunyai ahli kedokteran dan manajemen yang bagus.

Saya diminta ke UGD dan mulai diperiksa suhu badan saya dan hasilnya 39 derajat. Setelah itu dilakukan pemeriksaan darah dan hasilnya adalah thrombosit saya 27.000 dengan kondisi normalnya adalah 200.000. Saya diinformasikan dan ditangani oleh dr Indah (umum) dan dinyatakan saya wajib rawat inap. dr I melakukan pemeriksaan lab ulang dengan sample darah saya yang sama dan hasilnya dinyatakan masih sama yaitu thrombosit 27.000.

dr I menanyakan dokter specialist mana yang akan saya gunakan. Tapi, saya meminta referensi darinya karena saya sama sekali buta dengan RS ini. Lalu referensi dr I adalah dr H. dr H memeriksa kondisi saya dan saya menanyakan saya sakit apa dan dijelaskan bahwa ini sudah positif demam berdarah.

Mulai malam itu saya diinfus dan diberi suntikan tanpa penjelasan atau izin pasien atau keluarga pasien suntikan tersebut untuk apa. Keesokan pagi, dr H visit saya dan menginformasikan bahwa ada revisi hasil lab semalam. Bukan 27.000 tapi 181.000 (hasil lab bisa dilakukan revisi?). Saya kaget tapi dr H terus memberikan instruksi ke suster perawat supaya diberikan berbagai macam suntikan yang saya tidak tahu dan tanpa izin pasien atau keluarga pasien.

Saya tanya kembali jadi saya sakit apa sebenarnya dan tetap masih sama dengan jawaban semalam bahwa saya kena demam berdarah. Saya sangat khawatir karena di rumah saya memiliki 2 anak yang masih batita. Jadi saya lebih memilih berpikir positif tentang RS dan dokter ini supaya saya cepat sembuh dan saya percaya saya ditangani oleh dokter profesional standard Internatonal.

Mulai Jumat terebut saya diberikan berbagai macam suntikan yang setiap suntik tidak ada keterangan apa pun dari suster perawat, dan setiap saya meminta keterangan tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Lebih terkesan suster hanya menjalankan perintah dokter dan pasien harus menerimanya. Satu boks lemari pasien penuh dengan infus dan suntikan disertai banyak ampul.

Tangan kiri saya mulai membengkak. Saya minta dihentikan infus dan suntikan dan minta ketemu dengan dr H. Namun, dokter tidak datang sampai saya dipindahkan ke ruangan. Lama kelamaan suhu badan saya makin naik kembali ke 39 derajat dan datang dokter pengganti yang saya juga tidak tahu dokter apa. Setelah dicek dokter tersebut hanya mengatakan akan menunggu dr H saja.

Esoknya dr H datang sore hari dengan hanya menjelaskan ke suster untuk memberikan obat berupa suntikan lagi. Saya tanyakan ke dokter tersebut saya sakit apa sebenarnya dan dijelaskan saya kena virus udara. Saya tanyakan berarti bukan kena demam berdarah. Tapi, dr H tetap menjelaskan bahwa demam berdarah tetap virus udara. Saya dipasangkan kembali infus sebelah kanan dan kembali diberikan suntikan yang sakit sekali.

Malamnya saya diberikan suntikan 2 ampul sekaligus dan saya terserang sesak napas selama 15 menit dan diberikan oxygen. Dokter jaga datang namun hanya berkata menunggu dr H saja.

Jadi malam itu saya masih dalam kondisi infus. Padahal tangan kanan saya pun mengalami pembengkakan seperti tangan kiri saya. Saya minta dengan paksa untuk diberhentikan infusnya dan menolak dilakukan suntikan dan obat-obatan.

Esoknya saya dan keluarga menuntut dr H untuk ketemu dengan kami. Namun, janji selalu diulur-ulur dan baru datang malam hari. Suami dan kakak-kakak saya menuntut penjelasan dr H mengenai sakit saya, suntikan, hasil lab awal yang 27.000 menjadi revisi 181.000 dan serangan sesak napas yang dalam riwayat hidup saya belum pernah terjadi. Kondisi saya makin parah dengan membengkaknya leher kiri dan mata kiri.

dr H tidak memberikan penjelasan dengan memuaskan. Dokter tersebut malah mulai memberikan instruksi ke suster untuk diberikan obat-obatan kembali dan menyuruh tidak digunakan infus kembali. Kami berdebat mengenai kondisi saya dan meminta dr H bertanggung jawab mengenai ini dari hasil lab yang pertama yang seharusnya saya bisa rawat jalan saja. dr H menyalahkan bagian lab dan tidak bisa memberikan keterangan yang memuaskan.

Keesokannya kondisi saya makin parah dengan leher kanan saya juga mulai membengkak dan panas kembali menjadi 39 derajat. Namun, saya tetap tidak mau dirawat di RS ini lagi dan mau pindah ke RS lain. Tapi, saya membutuhkan data medis yang lengkap dan lagi-lagi saya dipermainkan dengan diberikan data medis yang fiktif.

Dalam catatan medis diberikan keterangan bahwa bab (buang air besar) saya lancar padahal itu kesulitan saya semenjak dirawat di RS ini tapi tidak ada follow up-nya sama sekali. Lalu hasil lab yang diberikan adalah hasil thrombosit saya yang 181.000 bukan 27.000.

Saya ngotot untuk diberikan data medis hasil lab 27.000 namun sangat dikagetkan bahwa hasil lab 27.000 tersebut tidak dicetak dan yang tercetak adalah 181.000. Kepala lab saat itu adalah dr M dan setelah saya komplain dan marah-marah dokter tersebut mengatakan bahwa catatan hasil lab 27.000 tersebut ada di Manajemen Omni. Maka saya desak untuk bertemu langsung dengan Manajemen yang memegang hasil lab tersebut.

Saya mengajukan komplain tertulis ke Manajemen Omni dan diterima oleh Og(Customer Service Coordinator) dan saya minta tanda terima. Dalam tanda terima tersebut hanya ditulis saran bukan komplain. Saya benar-benar dipermainkan oleh Manajemen Omni dengan staff Og yang tidak ada service-nya sama sekali ke customer melainkan seperti mencemooh tindakan saya meminta tanda terima pengajuan komplain tertulis.

Dalam kondisi sakit saya dan suami saya ketemu dengan Manajemen. Atas nama Og (Customer Service Coordinator) dan dr G (Customer Service Manager) dan diminta memberikan keterangan kembali mengenai kejadian yang terjadi dengan saya.

Saya benar-benar habis kesabaran dan saya hanya meminta surat pernyataan dari lab RS ini mengenai hasil lab awal saya adalah 27.000 bukan 181.000. Makanya saya diwajibkan masuk ke RS ini padahal dengan kondisi thrombosit 181.000 saya masih bisa rawat jalan.

Tanggapan dr G yang katanya adalah penanggung jawab masalah komplain saya ini tidak profesional sama sekali. Tidak menanggapi komplain dengan baik. Dia mengelak bahwa lab telah memberikan hasil lab 27.000 sesuai dr M informasikan ke saya. Saya minta duduk bareng antara lab, Manajemen, dan dr H. Namun, tidak bisa dilakukan dengan alasan akan dirundingkan ke atas (Manajemen) dan berjanji akan memberikan surat tersebut jam 4 sore.

Setelah itu saya ke RS lain dan masuk ke perawatan dalam kondisi saya dimasukkan dalam ruangan isolasi karena virus saya ini menular. Menurut analisa ini adalah sakitnya anak-anak yaitu sakit gondongan namun sudah parah karena sudah membengkak. Kalau kena orang dewasa laki-laki bisa terjadi impoten dan perempuan ke pankreas dan kista.

Saya lemas mendengarnya dan benar-benar marah dengan RS Omni yang telah membohongi saya dengan analisa sakit demam berdarah dan sudah diberikan suntikan macam-macam dengan dosis tinggi sehingga mengalami sesak napas. Saya tanyakan mengenai suntikan tersebut ke RS yang baru ini dan memang saya tidak kuat dengan suntikan dosis tinggi sehingga terjadi sesak napas.

Suami saya datang kembali ke RS Omni menagih surat hasil lab 27.000 tersebut namun malah dihadapkan ke perundingan yang tidak jelas dan meminta diberikan waktu besok pagi datang langsung ke rumah saya. Keesokan paginya saya tunggu kabar orang rumah sampai jam 12 siang belum ada orang yang datang dari Omni memberikan surat tersebut.

Saya telepon dr G sebagai penanggung jawab kompain dan diberikan keterangan bahwa kurirnya baru mau jalan ke rumah saya. Namun, sampai jam 4 sore saya tunggu dan ternyata belum ada juga yang datang ke rumah saya. Kembali saya telepon dr G dan dia mengatakan bahwa sudah dikirim dan ada tanda terima atas nama Rukiah.

Ini benar-benar kebohongan RS yang keterlaluan sekali. Di rumah saya tidak ada nama Rukiah. Saya minta disebutkan alamat jelas saya dan mencari datanya sulit sekali dan membutuhkan waktu yang lama. LOgkanya dalam tanda terima tentunya ada alamat jelas surat tertujunya ke mana kan? Makanya saya sebut Manajemen Omni pembohon besar semua. Hati-hati dengan permainan mereka yang mempermainkan nyawa orang.

Terutama dr G dan Og, tidak ada sopan santun dan etika mengenai pelayanan customer, tidak sesuai dengan standard international yang RS ini cantum.

Saya bilang ke dr G, akan datang ke Omni untuk mengambil surat tersebut dan ketika suami saya datang ke Omni hanya dititipkan ke resepsionis saja dan pas dibaca isi suratnya sungguh membuat sakit hati kami.

Pihak manajemen hanya menyebutkan mohon maaf atas ketidaknyamanan kami dan tidak disebutkan mengenai kesalahan lab awal yang menyebutkan 27.000 dan dilakukan revisi 181.000 dan diberikan suntikan yang mengakibatkan kondisi kesehatan makin memburuk dari sebelum masuk ke RS Omni.

Kenapa saya dan suami saya ngotot dengan surat tersebut? Karena saya ingin tahu bahwa sebenarnya hasil lab 27.000 itu benar ada atau fiktif saja supaya RS Omni mendapatkan pasien rawat inap.

Dan setelah beberapa kali kami ditipu dengan janji maka sebenarnya adalah hasil lab saya 27.000 adalah fiktif dan yang sebenarnya saya tidak perlu rawat inap dan tidak perlu ada suntikan dan sesak napas dan kesehatan saya tidak makin parah karena bisa langsung tertangani dengan baik.

Saya dirugikan secara kesehatan. Mungkin dikarenakan biaya RS ini dengan asuransi makanya RS ini seenaknya mengambil limit asuransi saya semaksimal mungkin. Tapi, RS ini tidak memperdulikan efek dari keserakahan ini.

Sdr Og menyarankan saya bertemu dengan direktur operasional RS Omni (dr B). Namun, saya dan suami saya sudah terlalu lelah mengikuti permainan kebohongan mereka dengan kondisi saya masih sakit dan dirawat di RS lain.

Syukur Alhamdulilah saya mulai membaik namun ada kondisi mata saya yang selaput atasnya robek dan terkena virus sehingga penglihatan saya tidak jelas dan apabila terkena sinar saya tidak tahan dan ini membutuhkan waktu yang cukup untuk menyembuhkan.

Setiap kehidupan manusia pasti ada jalan hidup dan nasibnya masing-masing. Benar. Tapi, apabila nyawa manusia dipermainkan oleh sebuah RS yang dipercaya untuk menyembuhkan malah mempermainkan sungguh mengecewakan.

Semoga Allah memberikan hati nurani ke Manajemen dan dokter RS Omni supaya diingatkan kembali bahwa mereka juga punya keluarga, anak, orang tua yang tentunya suatu saat juga sakit dan membutuhkan medis. Mudah-mudahan tidak terjadi seperti yang saya alami di RS Omni ini.

Saya sangat mengharapkan mudah-mudahan salah satu pembaca adalah karyawan atau dokter atau Manajemen RS Omni. Tolong sampaikan ke dr G, dr H, dr M, dan Og bahwa jangan sampai pekerjaan mulia kalian sia-sia hanya demi perusahaan Anda. Saya informasikan juga dr H praktek di RSCM juga. Saya tidak mengatakan RSCM buruk tapi lebih hati-hati dengan perawatan medis dari dokter ini.

Salam,
Prita Mulyasari
Alam Sutera
prita.mulyasari@yahoo.com
081513100600


di muntahkan oleh sawung@psik-itb.org

Friday, May 29, 2009

tiga tahun lumpur lapindo






di muntahkan oleh sawung@psik-itb.org

Sunday, May 24, 2009

Green Fire



Bulan lalu ketemu Ian Cohen anggota parlemen NSW, Australia. Ian anggota parlemen dari partai hijau australia. Dia memberikan buku dan beberapa stiker. Sempet ngobrol-ngobrol lama. Baca buku, wow gile neh orang. Radical abis. Gue baru tau waktu ketemu orang australia di Hongkong nanya tentang Ian die cerita ian nempel di kapal perang yang sedang melaju untuk protes. Fotonya bisa dilihat disampul buku diatas. Di buku itu Ian juga bercerita bagaimana seorang anggota SAS bergabung dalam kelompoknya dan banyak membantu melakukan aksi protes. Andai ada pasukan khusus indonesia yang kesadaran terhadap kelestarian lingkuangannya besar bisa ikut gabung tampaknya perlawanan terhadap kerusakan lingkungan di Indonesia bisa lebih mantep lagi.

di muntahkan oleh sawung@psik-itb.org

Berkelitnya para panglima



Hari kebangkitan tahun ini diperingati dengan jatuhnya Harcules A1325 di Magetan. Pristiwa tragis ini menimbulkan korban baik penumpang pesawat dan penduduk. Pesawat tersebut buatan tahun 82. Herky ini merupakan herki versi sipil pertama yang dibuat khusus untuk indonesia. A1325 banyak berjasa mengangkut transmigran dari pulau jawa. A1325 kemudian dihibahkan kepada TNI AU tahun pertengahan 90an.
Pristiwa jatuhnya herky membaut beberapa pihak kebakaran jenggot (walaupun mereka gak punya jenggot). Kenapa kebakaran jenggot? Ini karena dalam 2 bulan sudah 3 pesawat mengalami kecelakaan fatal, 2 total lost satu rusak berat (ini belu termasuk kecelakaan yg tidak diketahui publik). Kecelakaan ini ditenggarai disebabkan oleh minimnya dana perawatan yang dimiliki oleh TNI AU. Awal tahun lalu memang ramai sekali keluhan mengenai pemotongan anggaran militer. Pemotongan ini memberatkan TNI AU dan AL, dari awal tahun soal ini sudah diingatkan. Bohong besar jika dibilang pemotongan tidak berpengaruh kepada operasional pesawat. Di media disebutkan bahwa yang dipotong pembelian alutsista baru. Lho kapan AU beli alutsista baru dari anggaran militer? Pembelian baru berasal dari KE. Perbaikan pesawat herky di Singapura pun mekanismenya ternyata melalui KE bukan melalui anggaran militer. (KE tidak dimasukkan dalam anggaran militer).

Ketika ditanya soal kondisi alutsista beberapa pihak tidak mau menjawab dengan jujur. Hari kemarin panglima berbicara mengenai kerahasian negara. Pak, kita bisa dengan mudah mengetahui kondisi alutsista Indonesia dari website luar negeri, jadi apanya yang dirahasiakan? Dirahasiakan dari penduduk indonesia maksudnya? Kritik sukribo melaui komik diatas mestinya bisa menyindir orang-orang yang bertanggung jawab.


*kartun berasal dari kompas minggu 24 mei 2009
*pak jusuf kalla juga menulis tentang kecelakaan hercules tersebut di http://jusufkalla.kompasiana.com/2009/05/21/salah-satu-korban-tragedi-hercules-adalah-tetangga-saya/
di muntahkan oleh sawung@psik-itb.org

Tuesday, May 19, 2009

BHOPAL STATEMENT

In this 25th year of unending human suffering: over 25000 people have died, each one of the half million exposed and their children have lost a relative, a friend or a neighbour. One fifth of the over half million people exposed remain chronically ill from a range of physical and mental diseases from toxic exposure. Tens of thousands of children born after the disaster have growth and development disorders, hundreds of children are born with birth defects stemming from their parents exposure to Carbide’s poisons through gas or through ground water contaminated by chemical wastes from the factory.

In this 25th year of corporate crime : the worst corporate massacre in world history, the individual officials and the corporations charged with manslaughter, grievous assault and other criminal charges remain absconding from Indian courts, unpunished. Meanwhile the principal accused continues to do business in India through The Dow Chemical Company that currently owns it. The request for extradition of Warren Anderson, former Chairman and principal accused in the criminal case lies denied by the US State and Justice Departments

In this 25th year of governments in bed with corporations : more than 17 years have passed and the prosecution remains to seek the extradition of representatives of Union Carbide now an US based company absconding from Indian Courts. The government has failed to file charges of bribery, a punishable offence, against Dow Chemical that has admitted to paying thousands of dollars in bribe to Indian government officials for registration of pesticides. The government has played an active role in helping Union Carbide sell its technology and services in India while absconding from Indian courts.

In this 25th year of anti people governments : despite the changes in the political parties that have come to power state and central governments have remained unchangingly apathetic towards the social and economic problems of tens of thousands of survivors who lost their capacity to earn a livelihood. The un-stated Government policy of treating Bhopali lives as expendable is apparent from the consistent and deliberate neglect of the rehabilitation of the survivors and their children. The Empowered Commission for long term rehabilitation of the survivors remains to be set up despite nine month old public promises.

An global environmental crime ongoing for over 25 years : ground water and soil in an area over 20 square kilometres lies contaminated with cancer and birth defect causing chemicals and chemicals that damage the lungs, liver, kidneys and brain. Some of these chemicals have been found in the breast milk of mothers in the communities next to the factory and the dump where over 10, 000 tonnes of hazardous waste lies buried. The area includes the 87 acre factory premises where Union Carbide admits to dumping hazardous wastes in over 20 spots. Union Carbide ignores notices from the Indian courts and Dow Chemical says it can not accept liabilities of accompany that it owns 100%.

In this 25th year of slow and silent Bhopal’s: corporations big and small worldwide emboldened by the absence of justice in Bhopal continue with toxic trespass into peoples habitats and their bodies and those of the unborn. Globalization gas given a boost to the spread of the toxic empire as the logic of profit over peoples lives and those of the unborn finds newer areas to capture. Across national boundaries regulatory authorities

In this 25th year of relentless struggle of the survivors: the march for justice and a life of dignity continues. The women of survivors in this longest battle of industrial victims any where in the world refuse to be “flowers to be offered at the altar of profit and power.” They say “we are dancing flames committed to conquering darkness…challenging those who threaten the survival of the planet and the magic and mystery of life.” Joining them since last year are the newly formed “Children against Dow/Carbide”, the next generation committed to the vision of the elders and with creative energy to carry the battle to victory.

In this 25th year of national and international solidarity: for justice for victims of environmental and industrial hazards, for exemplary punishment of corporate criminals, for adequate restitution of health, economic, social and environmental damages grow stronger. Connecting up with communities and individuals victimized by pollution, with trade unions active on occupational health issues with associations focused on industrial and environmental health, with progressive health professionals and their associations the international campaign for justice in Bhopal continues to grow

Wednesday, May 06, 2009

Pilihan sulit




Pilih mana?
Utara atau selatan?
pilihan yang sulit karena nilai dan bobotnya sama.

di muntahkan oleh sawung@psik-itb.org